Kita Belajar Dari Habibie Afsyah Yang Gak Kenal Kata Menyerah Dengan Keterbatasannya

Kisah perjalanan suksenya Habibie Afsyah patut kita contoh dengan segara keterbatasannya dia mau berjuang untuk tidak bergantung pada orang lain. Tapi semua itu tak lepas dari peran serta sang ibu yang berjuang mendorong dan memotivasi sang anak agar bisa mandiri di kelak kemudian hari. Di saat Habibie merasa putus asa karena kegagalannya sang ibulah yang selalu mendorongnya untuk bisa terus belajar dari kegagalannya. Semua dorongan itu gak hanya cuma lisan sang ibu mengeluarkan biaya yang gak sedikit agar bisa menjadikan habibie seperti sekarang ini.

Oke kita simak seperti apa perjalanan sukses sang habibie hingga bisa sampai sekarang ini:

Pernahkah anda mendengar sosok Habibie Afsyah? Beliau telah sukses menjadi seorang Wira Usaha Online pada usianya 21 tahun. Di usia mudanya, Habibie sudah mendirikan “Yayasan Habibie Afsyah” untuk mengangkat kehidupan para penyandang cacat seperti dirinya. Berikut kisah yang sangat memotivasi kita dari Biografi Wirausaha Sukses seorang Habibbie Afsyah:
Habibie terlahir sebagai bayi montok dan sehat yg membuat orangtuanya tidak menaruh curiga terhadap keadaan fisik anaknya. Baru pada Usia 8 bulan, orang tuanya mulai curiga karena Habibie kecil belum juga bisa merangkak seperti bayi normal lain pada umumnya.
Mulailah Habibie Afsyah di bawa ke Dokter oleh sang Ibu untuk mengetahui penyebab terlambatnya perkembangan fisik tsb.


Setelah dibawa ke berbagai Rumah Sakit dan bertemu dengan banyak dokter, diketahui ternyata Habibie menderita penyakit Muscular Dystrophy Progressive tipe Backer.
 
Ada kelainan di otak kecil Habibie yg menyebabkan perkembangan syaraf motoriknya terganggu, sehingga pertumbuhannya terhambat dan mengalami kelainan.


Bahkan ada Dokter yg memprediksi umurnya hanya sampai 25 tahun saja.
Habibie Afsyah sering dibawa ke mana-mana oleh Sang Ibu untuk mendapatkan pengobatan, baik ke dokter spesialis, maupun ke pengobatan alternatif. Semua dilakukan sang Ibu agar mendapatkan kesembuhan bagi Sang Anak. Bahkan Habibie Afsyah sempat dibawa sang ibu mengikuti terapi khusus dengan memasukkan tubuhnya ke dalam semacam kotak. Kakinya dimasukkan sepatu khusus dengan penyangga besi.


Namun Habibie merasa proses terapinya sangat menyakitkan. Dalam setiap terapi sekitar 15-30 menit itu Habibie kecil selalu menangis ; “Sakit Ma, sakit. Udah ma, Dede ngak mau,” jeritnya. Karena terapi yg menurut Habibie menyakitkan tersebut, pangkal pahanya sempat terlepas dari tulang mangkoknya. Dan hal itu membuat pertumbuhan kakinya menjadi tidak seimbang. Kaki Habibie menjadi panjang sebelah.

Namun keadaan cacat telah mengajarkan Habibie untuk ikhlas menerima keadaan yg diberikan Tuhan. Hal itu bisa dia terima dengan apa adanya.
Yang membuat sangat berat adalah tantangan hidup untuk mendapatkan perlakuan layak dari lingkungan sekitar. Beliau sangat merasakan diskriminasi ketika mau mendaftar ke sekolah, mau menikmati liburan ke tempat wisata bersama keluarga, dan lain sebagainya. Sebagian sekolah beralasan belum memiliki fasilitas untuk menampung Anak Cacat yg berkursi roda untuk belajar di sekolah normal.


Sang Ibu  lah yg berjuang keras ke sana-ke mari untuk mencari tempat pendidikan buat anaknya. Termasuk suatu ketika mendaftarkan Habibie pada Kursus Dasar Internet Marketing selama 2 hari dg pengajar dari Singapura, Mr. Fabian Lim.

Ceritanya setelah bergelut dengan perjuangan untuk bisa lulus sekolah hingga SMA, Habibie Afsyah tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.


Dia didaftarkan sang ibu ikut Kursus Dasar Internet Marketing. Biayanya lumayan besar, Rp. 5 juta. Setelah selesai mengikuti Kursus Dasar Internet Marketing tsb, Habibie mengaku tidak tahu harus melakukan apa lagi karena dia merasa benar-benar buta tentang bidang yg baru dipelajarinya itu. Dia merasa nol besar dalam hal internet marketing ini. Apalagi kursus yg diberikan dalam Bahasa Inggris dan memakai penerjemah/translator.

Habibie memang sering membuka internet, namun itu hanya untuk bermain game online sebagai pengisi kesibukannya di rumah. Katanya Komputer yg dipakai juga masih numpang di komputer kakaknya.

Selang beberapa bulan kemudian, Habibie diikutkan kembali oleh sang ibu untuk ikut Kursus tingkat lanjut (advanced) Internet Marketing dengan pembicara yg sama dari Singapura,Fabian Liem.
Habibie Afsyah sempat menolak karena tidak enak melihat sang Ibu harus menjual Mobil sewaannya hanya agar dia bisa mengikuti pelatihan internet marketing Karena Biaya Kursus tingkat lanjut itu mencapai Rp. 15 Juta.


Dia sempat berdebat dengan sang ibu, namun Ibunya tetap memberikan semangat kepada Habibie dan mendorongnya untuk bisa berhasil. “Anggap saja kamu kuliah”, begitu kata sang ibu. Akhirnya dengan dorongan sang ibu, Habibie mau mengikuti kursus internet marketing yang begitu mahal pada saat itu.

Di kursus advanced tsb, habibie mengikuti “kuliah” setiap 2 minggu selama 3 bulan. Di tempat kursus inilah pertama kalinya Habibie berkenalan dengan Suwandi Chow, seorang alih bahasa kursus dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.


Setelah belajar 3 minggu, Habibie berhasil mendapatkan penjualan pertama dari Amazon.com dg Produk Game PS3. Meski komisinya cuma $24, Habibie senangnya bukan kepalang karena baru kali ini bisa menghasilkan uang dari internet. Pada komisi pertama ini Habibie sebenarnya rugi karena biaya iklan lebih besar dari komisi.

Namun Habibie terus berusaha sampai dia bisa mendapatkan komisi $124, $500, $1000, dan $2000 dari Amazon. Semua memerlukan proses belajar dan praktek secara konsisten.
Uang hasil penghasilan dari Amazon dipakai Habibie untuk mengikuti kursus-kursus internet marketing lain, seperti Eprofitmatrix, Dokterpim, dan Indonesia Bootcamp.
Dari kursus dan praktek internet marketing, Habibie sudah bisa menerbitkan Ebook Panduan Sukses dari Amazon dan membuat situs Listing Rumah (rumah101.com).


Habibie juga didaulat menjadi Trainer di Eprofitmatrix bersama Gurunya, Suwandi Chow. Itulah pertama kali Habibie menjadi Trainer seminar meskipun usianya masih 20 tahun.
Sejak itu, Habibie sering diundang menjadi pembicara seminar internet marketing di kampus-kampus, hingga diliput koran, tabloid, dan majalah. Puncaknya Habibie diundang pada acara Kick Andy di Metro TV pada episode “Kasih Tiada Bertepi”.

Di salah satu tulisannya, berikut petikan yang sangat menyentuh sanubari kita:
“Akhirnya, melalui buku ini,aku ingin mengajak Anda semua untuk mensyukuri apa pun yg telah dianugrahkan oleh Tuhan, termasuk diri kita sendiri. Diri kita adalah anugrah yang sangat berharga. Bagaimanapun kondisi kita, kita selalu punya pilihan untuk melejitkan potensi diri kita atau menidurkannya. kelemahan diri, termasuk keterbatasan fisik, tidak harus selalu berujung pada pelumpuhan diri. Pergulatan sudah pasti ada,
tetapi kelemahan bisa diolah menjadi kekuatan”.

“Kalau Saya yang punya keterbatasan seperti ini saja bisa, Anda pasti bisa! Kemandirian dan kesuksesan adalah kodrat Anda”.


Jadi jika anda sehat tidak ada cacat kenapa tidak bisa sedangkan habibie dengan segala keterbatasannya dia mampu menghasilkan uang puluhan juta hanya dengan duduk di kursi roda.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kita Belajar Dari Habibie Afsyah Yang Gak Kenal Kata Menyerah Dengan Keterbatasannya"

Post a Comment