10 Hal Tentang Kesuksesan Singapura Menjadi Negara Maju

Membicarakan tentang singapura memang tidak ada habisnya kemajuan yang dicapai singapura saat ini tidak lepas dari peran serta sanga tangan dingin dari Lee Kuan Yew dan merupakkan pendiri singapura modern dan merupakkan perdana mentri pertama.

Lee dikagumi oleh banyak orang termasuk tokoh dunia. Ia seorang politisi hebat dan ahli strategi pembangunan yang disegani di Asia maupun dunia. Kehebatannya dibuktikan dengan keberhasilannya ‘menyulap’ negara-kota Singapura, dari sebuah negara dunia ketiga setelah merdeka dari Ferederasi Malaysia, 9 Agustus 1965, menjadi sebuah negara maju yang kita kenal saat ini.

Lee Kuan Yew meninggal 23 Maret lalu pada usia 91 tahun.
Tidak lama sebelum Lee meninggal, Kishore Mahbubani -seorang warga Singapura yang pernah bekerja dengan Lee, mantan Presiden Dewan Keamanan PBB dan sekarang dosen Kebijakan Publik Lee Kuan Yew School of Public Policy, Universitas Nasional Singapura- mengatakan ada banyak yang dipelajari dari kesuksesan Singapura dan tentu saja dari seorang Lee Kuan Yew.

Dia menuturkan bagaimana Singapura bisa seperti sekarang ini dari saat ketika merdeka dari Malaysia tahun 1965. Kala itu, Mahbubani masih berusia 17 tahun dan menyaksikan sendiri perkembangan yang dialami Singapura dari sebuah negara miskin dengan GDP per capita $500, sama seperti Ghana. Masalah lain yang dihadapi Singapura kala itu adalah perkelahian antarsuku yang kerap terjadi.

Saat ini Singapore merupakan negara dengan GDP per capita terbesar keempat di dunia dengan $76.237, hampir dua kali lipat dari pendapatan Inggris $37.017) yang pernah menjajahnya.

Menurut Mahbubani keberhasilan itu disebabkan oleh 10 hal berikut ini.

1 Pendiri negara yang hebat

Singapura bersyukur memiliki founding fathers hebat seperti Lee Kuan Yew, S. Rajaratnam, dan Goh Keng Swee. Ketiga orang ini luar biasa. Mereka pintar dan mendedikasikan hidup mereka sepenuhnya untuk kebaikan orang-orang Singapura.

2 Menerapkan sistem meritokrasi

Singapura sukses karena sejak awal para pendiri bangsa menerapkan sistem meritokrasi. Mereka menempatkan orang-orang pilihan untuk memimpin bangsa dan memberlakukan meritokrasi sebagai dasar bagi pelayanan publik. Lee Kuan Yew sendiri menegaskan bahwa kepemimpinan politik yang kuat membutuhkan pelayan publik yang netral, efisien dan jujur. Mereka dipilih dan mendapat kenaikan pangkat atas dasar merit, atau kinerja mereka.
Mereka (para PNS) ini harus menjalani prinsip pembangunan bangsa yang sama dan bekerja sesuai tujuan dari para pemimpin politik. Mereka juga mendapat upah yang sesuai, sehingga sanggup melawan godaan untuk korupsi. Lembaga khusus dibentuk untuk mengakses karakter pegawai, dan memberikan beasiswa kepada calon-calon yang terbaik.

3 Mau belajar dari negara lain

Singapura sukses karena para pemimpinnya tidak malu untuk belajar dari negara lain. Singapura adalah negara yang paling pragmatis di dunia dan berhasil mengadopsi solusi yang ditawarkan oleh negara lain. Bahkan sekarang, program pendidikan Lee Kuan Yew didedikasikan untuk menyebarluaskan praktek-praktek terbaik di Singapura ke negara-negara berkembang.

4 Politik luar negeri yang pragmatis

Sebagai negara kecil Singapura tidak kaku dalam politik luar negerinya (non-blok). Misalnya, selama Perang Dingin, Singapura menjadi sahabat bagi Amerika Serikat, namun tidak menutup diri bagi Uni Soviet (Rusia), bahkan tetap membolehkan kapal-kapal Rusia bersandar di Singapura. Menteri Luar Negeri Singapura kala itu S. Rajaratnam dalam pidatonya di PBB mengatakan bahwa Singapura ingin hidup secara damai dengan negara-negara tetangga, karena Singapura akan rugi jika berperang melawan mereka.

Baca Juga:


5 Memulai dengan kesuksesan kecil

Kesuksesan Singapura terletak pada keterfokusan para pemimpinnya untuk berhasil dalam hal-hal kecil namun yang memiliki efek perubahan yang besar. Bahkan pada masa-masa awal, ada pemimpin yang mengatakan bahwa apabila mereka bisa membuat sebuah pipa air hadir di sebuah desa, maka semua warga desa akan mendukung mereka.
Pemimpin Singapura percaya bahwa kemajuan tidak bisa dicapai hanya melalui reformasi besar-besaran. Langkah-langkah kecil yang memiliki dampak besar pada kehidupan orang sehari-hari sangat perlu untuk memastikan bahwa kemajuan terjadi dalam cara yang manfaatnya dirasakan.

6 Tidak bergantung pada bantuan luar negeri

Singapura tidak bergantung pada bantuan luar negeri (foreign aid) untuk mencapai tujuan pembangunan. Para pemimpin Singapura di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew, melihat bahwa bantuan besar-besaran yang berasal dari luar negeri, tidak akan membantu. Karena sebagian besar (sekitar 80%) dari bantuan tersebut kembali ke negara asal, berupa pengeluaran administrasi, biaya konsultasi, dan kontrak bagi korporasi dari negara donor.
Dengan demikian, secara faktual hanya sedikit bantuan yang sebenarnya. Singapura selalu tidak percaya dengan bantuan luar negeri, tapi sangat percaya pada perdagangan dan investasi. Jadi ketika negara lain membendung investasi, Singapura membuka pintu lebar-lebar untuk investasi. Dan hasilnya sangat luar biasa: Singapura menjadi negara maju.

7 Kebijakan yang merangkul semua etnis

Kelompok suku utama di Singapura adalah Cina, Melayu, India, tapi masih banyak lainnya. Dan untuk merangkul semua suku, pemerintah menetapkan empat bahasa resmi yakni Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil. Tujuannya agar semua orang merasa bagian dari Singapura.

8 Berpikir jauh ke depan

Para pemimpin Singapura seperti Lee Kuan Yew dan Goh Keng Swee percaya pada visi jangka panjang. Misalnya perjanjian menyangkut penyediaan air dengan Malaysia selama 100 tahun yang dilakukan tahun 1961.
Selama perjanjian itu berjalan Singapura terus membangun tempat penampungan dan penyulingan air serta fasilitas reklamasi air. Hebatnya lagi, tahun 2013 pemerintah mengumumkan bahwa Singapura sudah mandiri air, bahkan jauh sebelum perjanjian itu berakhir.

 9 Menghindari langkah populis

Singapura menentang sistem ‘welfare state’ atau negara kesejahteraan. Dalam sistem semacam ini negara harus ikut campur, memberikan bantuan sana-sini, dan bisa mengambilalih tugas seorang kepala keluarga yang harus bekerja untuk menafkahi keluarganya. Lee Kuan Yew sejak awal mengatakan bahwa sistem kesejahteraan menghilangkan kemandirian orang karena bergantung pada negara.
Namun demikian, Singapura menemukan cara tersendiri untuk membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat yakni dengan menginvestasi pada pendidikan, jaminan kesehatan, tempat tinggal dan transportasi yang terjangkau. Pemerintah juga menetapkan dana wajib melalui Central Provident Fund, di mana setiap pekerja setelah menerima gaji menyimpan sejumlah uang yang kemudian bisa digunakan untuk membeli rumah, biaya kesehatan, dan terutama uang pensiun.

 10 Kejujuran

Para pemimpin Singapura sejak masa-masa awal berdirinya negara ini sudah menekankan sikap jujur, bahkan sangat jujur. Mahbabuni berkisah bahwa tahun 1975, ada seorang menteri diajak oleh temannya seorang pengusaha untuk pergi berlibur bersama. Menteri tersebut menolak ikut dengan alasan tidak punya uang. Lalu pengusaha tersebut menawarkan akan membiayai dia. Lalu dia pun pergi. Akan tetapi ketika dia pulang, dia ditahan.
Bagi Singapura, kejujuran sangat penting karena warganya dan para investor akan percaya bahwa kebijakan yang diambil pemerintah bukan untuk kepentingan para elit politik, tapi memiliki tujuan untuk mensejahterakan rakyat.
Jika pemerintah jujur, rakyat dan investor akan merasa yakin dengan kepemimpinan mereka. Kejujuran juga menciptakan kestabilan politik yang memberikan ketenangan bagi para investor. Kejujuran para pemimpin Singapura telah membawanya pada tangga sukses menjadi negara yang maju.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "10 Hal Tentang Kesuksesan Singapura Menjadi Negara Maju"

Post a Comment