Benarkah Presiden Ke7 Kita Adalah Satrio Piningit, Mari Kita Simak Ulasannya Di Bawah Ini

Jika dipikir dengan nalar, memang tidak masuk diakal. Sosok Joko Widodo (Jokowi) menjadi resing strart dalam bidang politik dan birokrasi. Padahal, melihat “Prejengan” Jokowi sangat jauh dari tampilan sosok pemimpin yang pernah ada selama ini.
Kurang dari 10 tahun sejak pertama menjabat walikota Solo tahun 2005, pada 9 Juli 2014, menang pilpres berebut secara demokratis melawan Prabowo-Hatta. Senin pekan depan, tepatnya 20 Oktober 2014 Ia akan dilantik menjadi Seorang Presiden Republik Indonesia ke 7 dan mendapat predikat Satrio Piningit Sinisihan Wahyu.
Memang, jika hanya melihat penampilan luar Presiden RI ke 7 banyak manusia akan tertipu. Atau, itu artinya sama dengan meremehkan kebrilianan, ketulusan, kejujuran serta keberpihakan derita rakyat yang ada di relung hati dan pikiran Jokowi. Dalam hati, Mengakui atau tidak pribadi sosok Jokowi tergolong langka dewasa ini. Kelangkaan itu semakin terasa jika dinisbahkan kepada para pemimpin negeri ini.
Tidak bermaksud mendewakan sosok Jokowi, tetapi mungkin banyak yang setuju jika pribadi satu ini langka dan fenomenal di saat banyak pejabat publik menyandang gelar koruptor. Sukses kepemimpinan Jokowi menjabat Walikota Solo periode 2005-2009, membuat masyarakat Solo “menunjuk” beliau menjadi pemimpin mereka untuk kedua kalinya.
Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java“. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa.
Birokrat Pro rakyat
Ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka dan disiarkan oleh televisi lokal dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya.
Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 lalu.
Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″ oleh Majalah Tempo. Pendek kata, Jokowi menjadi simbol pribadi seorang birokrat yang pro rakyat.
Sementara Julukan “Jokowi” itu pemberian nama dari buyer saya dari Prancis,” begitu Joko Widodo, saat ditanya dari mana muncul nama Jokowi. Kata dia, begitu banyak nama dengan nama depan Joko yang jadi eksportir mebel kayu. Pembeli dari luar bingung untuk membedakan, Joko yang ini apa Joko yang itu. Makanya, dia terus diberi nama khusus, ‘Jokowi’. Panggilan itu kemudian melekat sampai sekarang. Di kartu nama yang dia berikan tertulis, Jokowi, saat di Solo dia mengecek, yang namanya persis Joko Widodo ada 16 orang.
Pada pertengahan masa jabatan Jokowi sebagai walikota pertama, penulis baru “bertemu” dengan beliau. Pertemuan itu terlantar ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedang “menangis” meminta kepada Legeslatif untuk menaikkan gajinya sebagai presiden. Sementara Jokowi, membagi-bagikan gajinya sebagai Walikota Solo kepada para dhuafa, masyarakat yang di pimpinnya. Sejak saat itu, penulis memperhatikan dengan seksama langkah, ucapan dan perbuatan Joko Widodo.
Nama Jokowi lambat laun saat menjabat Walikota Solo, kian polpuler. Lantaran itu Kemenangan mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota yang kedua kali pada periode 2010-2015. Nama Jokowi sejak saat itu kian populer, selain kepribadiannya yang disukai masyarakat, menyerahkan gaji walikotanya dan memberikan pada para dhuafa mencuri perhatian masyarakat yang miskin tauladan.
Ketika pergi ke pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.” Jokowi tidak segan duduk bersanding dan ngobrol dengan para tukang becak, penjual sayur, penjual kopi warungan. Sikapnya ini juga tidak berubah saat dirinya menjadi Gubernur DKI.
Jokowi memang terbilang seorang pemimpin yang fenomenal. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota bahkan hingga saat ia terpilih, banyak yang meragukan kemampuannya. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif yang ia lakukan. Dalam penataan kota, ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya dahulu.
Sebelum Joko Widodo diplot oleh partai Gerindra dan PDIP untuk maju bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)menjadi kandidat Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI), menemukan satu kepribadian pemimpin nasional dalam diri sosok Jokowi. karenanya saat ia didapuk menjadi kandidat DKI 1, penulis berkeyakinan Jokowi lebih layak menjadi Presiden Republik Indonesia dibandingkan tokoh-tokoh nasional yang sedang berkibar dan berancang-ancang mengambil simpati rakyat.
Tentu saja, untuk mengetahui energi kepemimpinan Jokowi dibutuhkan penglihatan secara tenang. Yaitu melihat dengan matahati. Seandainya mempercayai adanya Ramalan Jayabaya, terkait Pemimpin Negara Indonesia yang ke 7, satu-satunya yang masuk kreteria ramalan tersebut hanyalah Jokowi seorang.
Sesuai dengan ciri-ciri, pribadi atau akhlaq, serta tanda alam, calon pemimpin yang masih disembunyikan serta dalam taraf belajar memimpin rakyat, ternyata lebih dekat ke arah Jokowi. Jokowi adalah seorang Satrio Piningit Sinisihan Wahyu yang sedang ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia. Sebab sejak kepergian Bapak Proklamator Ir. Soekarno bangsa dan negara ini terkesan sebagai masyarakat babu yang selalu diperas, ditindas, dipinggirkan baik oleh pemimpin bangsanya sendiri maupun oleh bangsa asing.
Satrio Piningit Asli vs Palsu
Kesederhana, tegas, jujur, amanah, senang berbagi dan merasa senasib sepenanggungan menjadi karakter Jokowi yang tidak dibuat-buat. Dan hal itu dalam ramalan Jaya baya juga menjadi ciri dari Satrio Piningit Sinisihan Wahyu yang didambahkan kedatangannya. Kecintaan, usaha melestarikan budaya luhur bangsa, juga melekat pada Jokowi. Hal itu juga menjadi pribadi Satrio Piningit yang diramalkan Jayabaya dan datang dari daerah Semarang Jawah Tengah.
Maka tidaklah berlebihan jika akhirnya penulis memperkenalkan sosok pemimpin masa depan dengan caranya sendiri. Pria kelahiran Surakarta, Solo, Jawa Tengah, 21 Juni 1961 itu, “dipromosikan” kepada khalayak bertepatan dengan majunya Jokowi menuju DKI 1. Salah satu cara adalah dengan menulis di media sosial, yaitu sebuah blog suaratuhan. Berikut adalah link yangmenjadi bukti jika Jokowi bukan hanya untuk Jakarta, tetapi Jokowi didatangkan oleh Sang pencipta untuk memperbaiki Indonesia. Berikut adalah link tulisan artikel penulis. http://suaratuhan.blogspot.com/2013/01/jokowi-spirit-of-nusantara.html
Pertarungan Jokowi si Satrio Piningit Sinisihan Wahyu, tidak berjalan mulus tanpa ada perlawanan dan penjegalan. Salah seorang sumber yang pernah dialog dengan penulis memberikan penjelasan rinci. Jokowi akan mendapat perlawanan dari kandidat yang “memiliki potensi” memenangkan pertarungan Pilpres 2014. Rival Jokowi adalah sosok politisi, pengusaha, prajurit yang sangat berpengalaman bahkan memiliki dukungan moral maupun finansial sangat berlimpah.
Penjegalan, Penggagalan dan Pemazgulan
Sosok lawan Jokowi itulah yang disebut Satrio Piningi Palsu yang berusaha dengan segala cara “menjegal” Jokowi menjadi Presiden RI ke 7. Jika penjegalan Satrio Piningit Palsu berhasil, dipastikan negeri ini akan mengalami perang saudara, pecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi beberapa bagian menjadi suatu keniscayaan. Para pengusaha hitam, koruptor, mafia, maling dan birokrat busuk, akan menari kegirangan jika Jokowi bisa dikalahkan.
Musuh-musuh Jokowi, telah merancang berbagai strategi licik dan curang untuk mengalahkan, mengagalkan bahkan menggulingkan Jokowi di setiap kesempatan. Mereka berkomplot, melakukan makar kepada kebenaran dan jalan lurus hendak dibengkokkan. Namun Sikap TERANG, TENANG, SENANG, MENANG (Ba’tubuh Adam, Ba’wajah Yusuf, Ba’kalam Daud, Ba’akhlak Muhammad), melekat pada Jokowi. Hal itu membuat dirinya rendah hati dalam menghadapi setiap rintangan dan justru membuat dirinya semakin kuat, tegar menghadapi rival-rivalnya yang belum faham dirinya.
Sikap demikian tentu saja tidak gampang di raih seseorang. Bagi Jokowi Alumnus SMAN 6 Solo ini sifat itu merupakan bagian kehidupannya sehari-hari. Sejak kecil ia telah mendapatkan pendidikan dari kedua orang tuanya
Memberikan stigma pembohong, pengkhianat pada sosok alumnus SMAN 6 Solo Untuk melemahkan, masyarakat pemilih tidak juga mempan. Sebab bagi lulusan SDN 111, Tirtoyoso, Solo ini menyebut dirinya pembohong, pengkhianat, korupsi adalah makar yang diarahkan kepada dirinya. Sarjana Kehutanan UGM tahun 1985 tetap tenang, santun dan tak kehilangan akal. Dibalik ketenangan Jokowi, ternyata Allah SWT merasa perlu menunjukan kepada lawan politik Jokowi membalas makar mereka dengan makar Nya. Hingga untuk sementara kelompok Satria Peningit palsu bisa teredam amarah, kerakusan dan kedengkiannya.
Biasanya, setelah berhasil duduk dan menjabat sebagai pemimpin, mereka (para pemimpin) kemudian lupa akan janji-janjinya sebelum terpilih. Terlebih lagi mereka malah terjerumus ke dalam lingkaran birokrasi yang sarat dengan praktik korupsi. Namun hal itu tidak terjadi dengan seorang Jokowi. Jokowi dahulu adalah Jokowi sekarang, tidak berubah. Hal itu telah dibuktikan semenjak menjabat Walikota Solo, hingga dua periode dan dua tahun menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Banyak kesaksian dari para Kiai, yang mengetahui sosok sebenarnya Jokowi. Kiai Banten, langsung “menyerahkan kewaliannya” saat bertemu dan meninggal langsung di pangkuan Satrio Piningit ini. Kiai yang menjadi guru spiritual Khofifah Indar parawansa langsung memerintahkan Khofifah berjuang membantu Jokowi, beberapa saat setelah berjumpa Tukang mebel ini.
Disisi lain Kiai Mochtar, Pengasuh Maj’maal Bahrain Shiddiqiyyah ploso Jombang, mau bertemu Jokowi dan memberikan restu Pencapresannya. Padahal selama ini tidak pernah mau menemui kandidat bahkan Presiden sekalipun, kecuali Soekarno. Presiden yang pulang dengan tangan hampa dari Ploso Jombang adalah Gus Dur, Megawati dan SBY.
Hal ini menyiratkan kepada kita bahwa sosok Jokowi, memiliki kharisma, adil, jujur, tegas, cerdas, transparan dan tidak culas dalam memimpin rakyat dan negara. Dan sifat-sifat tersebut hanya dimiliki oleh kekasih-kekasih Allah SWT.
Menurut Jokowi, menjadi pemimpin harus dimulai dengan niat yang lurus dan ikhlas. Baginya, jabatan adalah suatu amanah yang berat dan harus bisa dipertanggungjawabkan. Amanah tersebut berasal dari Tuhan dan masyarakat Indonesia mengimpikan seorang pemimpin yang dapat membawa NKRI ke arah lebih baik, maju dan sejahtera. “Amanah itu saya terima dengan senang hati dan dengan penuh tanggung jawab,” ujar Jokowi The Spirit Of Nusantara.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Benarkah Presiden Ke7 Kita Adalah Satrio Piningit, Mari Kita Simak Ulasannya Di Bawah Ini"

Post a Comment