Mengintip Teknologi Wireless Charger Yang Mungkin Akan Berkembang Di 2017

Semakin berkembangnya teknologi semakin canggih juga inovasi yang di hasilkan. Ya teknologi charger wireless kemungkinan akan banyak di adopsi oleh produsen smartphone pada 2017. Lalu seperti apa sih teknologi wireless charger ini kita simak di bawah ini ya:

Beberapa produsen mulai menanamkan fitur pengisian daya tanpa kabel tersebut pada produk terbarunya. Bahkan, wireless charging station atau alat pengisi daya nirkabel sudah dibuat dalam beberapa jenis furnitur, seperti meja, lampu tidur, atau bahkan lemari hias. Smartphone high end yang mampu mendukung wireless charge di antaranya yakni Google Nexus 6, Samsung Galaxy S4 dan Nokia Lumia 920.
Di Indonesia, teknologi wireless charging sudah cukup dikenal. Dan sebetulnya, teknologi pengisian daya nirkabel ini juga bukan hal baru. Ilmuwan Amerika Serikat, Nikola Tesla, pada tahun 1891 telah menjadi orang pertama yang mencoba teknologi transmisi energi nirkabel ini. Saat itu, dia sukses menyalakan lampu listrik tanpa kabel.
Sistem tersebut kemudian diadopsi karena dinilai istimewa dan lebih aman. Berikut fakta yang membuktikan bahwa wireless charging lebih aman. Pertama, kemungkinan terjadi hubungan arus pendek atau korsleting dipastikan nol. Kedua, alat pengisi daya nirkabel juga dianggap lebih tahan lama karena kabel tak mudah rusak. Ketiga, teknologi ini pun dinilai ramah lingkungan karena bersifat non-radiatif.
Cara kerjanya simpel. Teknologi wireless charging—disebut juga pengisian induksi—memanfaatkan medan elektromagnetik untuk memindahkan energi di antara dua perangkat. Peranti elektronik -misalkan handphone- yang ingin di-charge tinggal diletakkan di atas alat pengisi daya nirkabel.
Saat alat itu dinyalakan, arus listrik menciptakan medan magnet dan menyalurkannya ke kumparan perangkat di atasnya. Kumparan yang terhubung dengan baterai itu kemudian menciptakan arus listrik. Pengisian daya pun dimulai dan akan terhenti ketika perangkat itu diangkat. Lantaran membutuhkan kumparan khusus, belum semua alat elektronik kompatibel dengan teknologi ini.

Yootech Wireless Charging Pad 

Dibandrol seharga 14 dolar atau sekitar Rp 200.000 untuk kurs dolar saat ini, Yootech yang berstandar Qi ini menjadi bukti bahwa wireless charging tidak harus mahal. Nilainya mungkin terbilang murah, tapi Yootech bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Bentuknya kecil, seperti sebuah keping segitiga dengan pad (alas) berbentuk bulat untuk meletakan gadget atau handphone yang akan dicharge, dengan dimensi 2.95″ x 2.95″ x 0.35″, dan berat 22.6 gram.
Ada tiga kaki di bagian bawah untuk mencegah tergelincir. Ada lampu (LED) kecil di depannya yang menyala hijau saat pengisian berlangsung, dan menyala merah ketika tidak ada pengisian, dan berkedip hijau dan merah jika perangkat Anda tidak didudukan di tempat yang manis.
Dengan power output 1A, pembeli akan mendapatkan kabel USB tapi tidak dengan adapternya. Bagi Anda yang anggarannya terbatas, produk ini bisa menjadi referensi menarik.

ChoeTech Stadium Qi Wireless Charger

Berikut ini termasuk charger sederhana dan murah yang proses pengisian baterainya bagus. Bentuknya ramping, pad ringan dengan desain yang cukup minimalis. Ada LED biru untuk menunjukkan bahwa pengisian berlangsung. Selama penempatan ponsel tepatdi tengah (ada tiga kumparan di dalam), Anda tidak perlu mengutak-utik lagi posisinya. Meski pad nya datar, Anda tidak perlu kuatir device Anda tergelincir karena charger ini memiliki empat kaki untuk mencegah resiko, mengingat bahannya sangat ringan.
Setiap pembelian Choe Tech, pembeli mendapatkan kabel Micro USB, tapi tidak ada adaptor AC. Dengan power 1A, charger berstandar Qi ini memiliki dimensi 4.72″ x 2.76″ x 0.42″, dan berat 66 gram.

Nokia DT-900 Wireless Charging Plat

Satu hal pasti yang membuat wireless charger Nokia sangat menonjol di antara produk sejenis yakni adanya kenyataan bahwa charger ini tersedia dalam berbagai warna-warna cerah: biru, kuning, dan merah, selain warna putih dan hitam seperti pada umumnya.
Papan untuk pengisian baterai ini dibuat dari bahan dasar yang halus, yang bagian pinggirnya berbahan plastik, dengan karet anti-slip ring di bagian tengahnya. Ada lampu kecil berwarna putih yang menyala untuk memberitahukan pemakainya bahwa pengisian sedang berlangsung.
Setiap pembelian charger Nokia, pembeli akan mendapatkan kabel (tapi bukan Micro USB) dan AC adapter. Namun, produk ini memiliki kekurangan yakni pada adaptornya yang dinilai kurang ideal. Saat ini, Nokia sudah memproduksi adapter baru DT-903 yang memiliki fitur yang keren dan mensupport bluetooth.
Wireless charger seharga 35 dolar atau setara dengan Rp 490.000 ini juga termasuk paket USB standard , tapi hanya berlaku untuk handsets Lumia  830 atau Lumia 930.

Incipio Ghost 220

Seperti kata pepatah “harga berbicara”, perangkat seharga 80 dolar atau senilai Rp 1.120.000,- ini pastinya menawarkan suatu kelebihan dibandingkan wireless charger yang harganya lebih murah, yakni dari segi pemakaian, Ghost 220 bisa mengisi baterai 3 device sekaligus dalam sekali waktu.
Meskipun harganya mentereng, tampilan Ghost 220 ini tidak mencolok, malah sebaliknya, terlihat sederhana, ramping, tidak mengkilap, berbahan pastik hitam. Namun, Ghost 220 tetap terlihat elegan dengan desain dua lampu yang tipis memanjang untuk menandakan proses pengisian energi sedang berlangsung. Lalu, ada dua simbol Qi di bagian atas untuk menandai posisi tempat meletakan dua smartphone, atau tablet kecil dan telepon.
Setiap membeli paket Incipio Ghost 220 yang berdimensi 7″ x 3.5″ x 0.6″ dan berat 154g, Anda akan mendapatkan USB standar dengan power output 1A (2.4A) yang energinya dibagikan ke dua device yang sedang di-charge. Anda juga dapat mengisi perangkat ketiga pada saat yang sama dengan USB ke kabel USB Micro. Paket ini termasuk pengisi baterai portabel yang dapat diisi secara wireless atau tanpa kabel.
Tak hanya itu, paket ini termasuk bonus bantalan kecil untuk perangkat tunggal dan baterai tambahan untuk melayani baterai-baterai tipe lama seperti iPhone 5, yang cocok dengan Qi wireless chargers.

Duracell PowerMat + PowerCase

Beberapa handphone cocok dengan tipe wireless charger Powermat, misalnya ponsel versi AT&T dan LG G3 yang dicocokan dengan sistem charging PMA, kendati perlu ada perlakuan khusus. Penampakan PMA jauh lebih ramping jika dibandingkan dengan wireless charger standard Qi, dengan desain menarik yang warnanya mengkilap, dengan pad dari plastik hitam atau putih yang beralaskan bahan aluminium.
Lingkaran kecil menandai tempat pengisian yang bisa dipakai dua perangkat secara bersamaan. Namun, perangkat berdimensi 6.25″ x 3.75″ x 0.38″ dan berat 172 gram ini punya masalah yakni dua lampu LED yang menyala saat men-charge mengeluarkan suara yang mengganggu.
Tipe Duracell ini memang menawarkan solusi untuk ponsel tertentu dan pengisi daya baterai portabel yang dapat dihubungkan pada pad. Harga yang ditawarkan untuk memiliki Duracell Powermat adalah tinggi bisa mencapai 50 dolar atau Rp 700.000,- ditambah PowerCase yang mencapai 120 dolar atau setara dengan Rp 1.680.000,-

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Mengintip Teknologi Wireless Charger Yang Mungkin Akan Berkembang Di 2017"